Antara Air Mata dan Melodi: Awal Mula Diriku
Saya lahir pada 29 Juli 1992.
Sejak kecil, dunia saya tidak pernah benar-benar jernih. Saat anak-anak lain
sibuk menatap dunia dengan rasa ingin tahu, saya justru harus berjuang dengan
mata yang sering kali menangis darah. Glaukoma kronis yang saya derita bukanlah
sekadar penyakit; itu adalah pendamping setia yang mengajarkan saya bahwa hidup
sering kali menuntut pengorbanan sejak dini.
Bab
1: Pilihan yang Salah
Masa SMP di SMP Negeri 1
Bantarbolang adalah masa di mana api dalam diri saya belum menemukan
saluran yang tepat. Kelas satu SMP, amarah yang tidak terarah menyeret saya ke
dalam pusaran tawuran. Saya masih ingat jelas tatapan ayah dan ibu saya malam
itu. Bukan sekadar amarah, namun ada kehancuran di sana.
"Toto, apa yang kamu cari di
jalanan? Kamu tidak tahu betapa hancurnya hati kami melihatmu mempertaruhkan
nyawa untuk sesuatu yang tidak berguna?"
Kata-kata itu menghantam saya lebih
keras daripada pukulan apa pun di jalanan. Di titik itulah, saya menyadari
bahwa saya telah melukai orang-orang yang paling menyayangi saya.
Bab
2: Kehilangan yang Menempa
Saat menapaki bangku SMK
Islam 1 Pemalang, takdir memberikan ujian yang jauh lebih berat. Kakak
saya, Agus Dalu Setiyawan, berpulang. Kehilangan sosok kakak adalah
kehilangan arah kompas dalam hidup saya. Namun, di antara duka yang mencekik,
saya menemukan pelarian: sebuah gitar.
Bab
3: Menjadi "Artis" di Antara Duka
Di kelas dua SMK, musik menjadi
napas saya. Sebagai gitaris dalam Sendi Musik, panggung adalah
tempat saya menumpahkan segala duka. Dari satu kompetisi ke kompetisi lain di
Pemalang, saya berubah. Saya tidak lagi dikenal sebagai bocah bermasalah,
melainkan sebagai sosok yang dihargai karena karya. Saat nama saya disorot
lampu panggung, semua rasa sakit itu menguap.
Bab
4: 2010 – Langkah ke Dunia Nyata
Lulus SMK tahun 2010, saya melepas
seragam sekolah dan mengenakan seragam kerja di Alfamart. Masa remaja saya
resmi berakhir di sana. Di balik meja kasir, saya berdiri sebagai seorang pria
muda yang membawa segudang cerita, trauma, dan harapan yang belum usai.
Refleksi
Jiwa
Tentang Rindu: "Mas Agus, aku sudah sampai di titik ini.
Meskipun kau tak ada untuk melihatnya, aku berjanji akan menjalani hidup ini
dengan cara yang membuatmu bangga."
Tentang Harapan: "Toto, kamu pernah hancur, kamu pernah salah,
tapi kamu masih berdiri. Teruslah berjalan, karena bab berikutnya baru saja
dimulai."