Gemerlap yang Fana: Di Balik Seragam dan Panggung Sandiwara
Tahun 2010. Saya menanggalkan seragam SMK dan melangkah masuk ke Alfamart. Di balik meja kasir itu, saya bukan sekadar Toto yang bekerja untuk gaji; saya adalah seorang pemuda yang sedang menikmati puncak pesona masa muda. Dengan gitar di satu tangan dan rangkaian kata puitis di bibir, saya merasa dunia berada di bawah kendali saya.
Sang Penakluk Hati
Entah karena melodi yang saya petik atau rangkaian sajak yang saya tulis, saya menjadi sosok yang "berbahaya". Dalam sebulan, tiga wanita dengan latar belakang berbeda bisa jatuh hati. Mulai dari mereka yang seusia, hingga seorang ibu-ibu yang terpesona dengan kedewasaan semu saya. Bahkan, takdir mempertemukan saya dengan seorang wanita dari kasta yang jauh berbeda—kaya raya dan berbeda keyakinan—yang justru mencintai saya dengan segala keterbatasan saya.
Hidup terasa seperti pesta. Hadiah-hadiah mewah sering kali mendarat di tangan saya, dan motor impian pun berhasil saya beli dari keringat sendiri. Saya merasa seolah-olah menjadi raja di kota sendiri. Saya menikmati tepuk tangan, kekaguman, dan perhatian. Namun, saya lupa satu hal: setiap pesta pasti akan berakhir.
Hantaman Takdir
Hingga sebuah malam mengubah segalanya. Kecepatan, kegelapan, dan benturan keras. Kecelakaan itu terjadi begitu cepat. Saat saya terbangun, dunia tidak lagi terlihat sama. Hidung saya patah, wajah yang dulu sering dipuja dalam foto, kini terbungkus perban di ruang rumah sakit. Di sana, di atas tempat tidur yang dingin, keangkuhan saya perlahan rontok.
Di rumah sakit, tidak ada lagi wanita yang datang membawakan hadiah. Tidak ada lagi sorak-sorai. Yang ada hanyalah sunyi, rasa sakit fisik yang luar biasa, dan kesadaran bahwa "pesta" yang saya jalani telah hancur bersama patahnya hidung saya.
Menanggalkan Seragam dan Topeng
Keluar dari Alfamart bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Karier saya di ritel berakhir dengan rasa sakit yang permanen pada wajah saya. Namun, justru di balik perban itulah, saya mulai melihat diri saya dengan lebih jujur. Ternyata, selama ini saya hanya mencoba menutupi luka masa lalu dengan mencari validasi dari orang lain.
— Di balik perban itu, seorang Toto yang baru sedang dibentuk. —