Awal Sebuah Komitmen
Tahun 2013 adalah titik di mana saya memutuskan untuk melepas masa lajang dan mengarungi bahtera rumah tangga bersama Jarti. Saat itu, saya masih memegang teguh idealisme sebagai guru pengabdi di SD Banjarsai, Pemalang. Gaji yang kecil tidak pernah menjadi penghalang karena saya mencintai dunia pendidikan. Kebahagiaan kami memuncak pada 28 November 2014, ketika tangis pertama Amanah Tu Anisa memecah kesunyian rumah kami. Dia adalah pelita, bukti cinta yang saya jaga dengan sepenuh hati.
Tuntutan dan Kehancuran Harga Diri
Namun, dua tahun pernikahan, desakan mulai datang. Jarti menganggap pengabdian saya sebagai guru tidak memiliki masa depan. "Mau sampai kapan membuang waktu di sana?" katanya. Demi menjaga keutuhan rumah tangga, saya mengalah. Saya meninggalkan dunia pendidikan dan terjun ke SPBU Karangmoncol pada tahun 2015. Di sana, saya bukan lagi sosok yang disegani, melainkan pelayan toko rendahan. Saya harus menelan ludah setiap kali rekan kerja memanggil saya "mokondo", menertawakan posisi saya sebagai suami yang dianggap tidak berguna. Saya diam, saya bekerja, saya menahan sakit itu sendirian demi memenuhi ambisi istri.
Mewujudkan Impian yang Menjadi Bumerang
Tahun 2018 menjadi tahun transisi. Saya keluar dari SPBU dengan tekad bulat untuk mandiri. Saya membuka toko sembako. Saya bekerja seperti orang kesurupan, pagi hingga malam tanpa henti. Hasilnya? Kami berhasil membangun rumah mewah impian kami dan mencicil mobil Avanza Velos terbaru pada 2019. Saya merancang desain rumah itu sendiri, hingga setiap sudutnya mencerminkan kerja keras saya. Saya adalah sosok suami yang mengerjakan semua pekerjaan domestik—menyapu, mengepel, mencuci piring—semua saya lakukan agar rumah itu terasa seperti surga.
Ironisnya, saat rumah itu berdiri megah, di situlah cemoohan keluarga Jarti semakin menjadi-jadi. Saya tetaplah "si pengangguran" di mata mereka. Padahal, setiap rupiah yang masuk ke cicilan mobil dan kebutuhan rumah, berasal dari desain digital yang saya kerjakan di rumah setiap malam. Saya dihina, saya dikucilkan, namun saya hanya fokus pada satu hal: Amanah, putri saya. Setiap kali dia memeluk saya dan berkata bangga pada ayahnya, saya merasa bahwa semua luka itu tak ada artinya.